latest Post

Putus Cinta Tidak Harus Move On

Hasil gambar
Saya senang mengamati teman-teman di sekitar saya, khususnya bagaimana mereka bersikap kepada kekasih sewaktu berpacaran, juga bagaimana mereka bersikap kepada mantan kekasih setelah—akhirnya—putus. Melalui pengamatan itu, saya mendapati sikap teman-teman yang, tentu saja, beragam.

Namun, kalau digeneralisasi dan diambil bagian menariknya, saya bisa menyimpulkan begini: sewaktu berpacaran, kekasih tidak tergantikan, ibarat oksigen, tanpa kekasih mereka tidak akan bernapas, dan itu artinya mereka berkemungkinan besar untuk mati; ketika putus karena satu dan lain hal, mereka akan sedih sesedih-sedihnya; tidak lama dari itu mereka akan tersadar bahwa kesedihan mereka adalah sia-sia, tidak boleh diteruskan, dan bilang move on!; setelah itu kembali pulih dan menemukan ‘oksigen’ baru.

Buat saya, bagian paling menarik dari simpulan di atas adalah move on. Saya—dan mungkin kita semua—seringkali mendengar kata ini terlontar dari orang yang baru putus cinta. Barangkali, inilah kata yang terdefinisikan sebagai “Aku tidak boleh begini, menangisi dia yang telah pergi tidak ada gunanya. Mulai saat ini juga, aku harus melupakan dia, dan mencari yang baru, yang lebih baik dari dia.” Berdasarkan pendapat sebagian besar teman, move on adalah cara terampuh untuk bangkit dari keterpurukan akibat putus cinta.
Namun, haruskah selalu demikian? Bagi saya, tidak.
Saya kemudian menemukan banyak orang, yang setelah putus cinta dan disinggung soal mantan, langsung berubah mood-nyaMisal, ada yang jadi sedih karena teringat, marah karena teringat, sampai-sampai galau lagi seperti sesaat setelah putus itu. Saya sendiri bukan tidak pernah mengalaminya.
Ketika menyatakan diri sudah move on, ternyata saya tidak sepenuhnya bangkit. Di depan orang lain mungkin sudah, tetapi tidak ada yang tahu bahwa ketika saya mendengar lagi nama mantan, atau mengunjungi lagi tempat yang pernah dikunjungi bersama, atau menonton lagi film yang pernah menjadi film favorit bersama, rasanya seperti ditarik kembali ke titik duka ketika harus pisah. Menyedihkan. Padahal, harapan setelah putus—yang saya yakin akan sama pada setiap orang—adalah saya bisa menjadi saya yang baru, ya, mungkin padan dengan tabula rasa yang baru.

Move on adalah “saya baru” yang lahir prematur. Belum waktunya. Dan, itu seringkali berarti belum siap. Karena, dengan move on saya menepis kenyataan, menghindari rasa sakit, dan ingin buru-buru bangkit. Akibatnya, jika ada pemicu yang mengingatkan saya akan mantan dan semua kenangan saat bersama, saya akan langsung kembali jatuh, bahkan terpuruk. Lalu mencoba move on lagi, lalu terpuruk lagi. Begitu terus. Melelahkan.

Lalu apa yang saya lakukan?

Saya teringat pada filsuf eksistensialis dari Perancis, Albert Camus, dan apa yang dia katakan: enjoy the pain. Kira-kira maksudnya adalah kesakitan ada untuk dirasakan, karena hanya dengan begitu kita bisa mendapat makna. Hidup ini absurd, termasuk soal cinta. Tetapi jika kita abai dengan yang absurd itu, kita akan mendapat apa?
Kalau begitu, jelas beda antara langsung move on setelah putus cinta dengan meresapi putus cinta itu sendiri. Ketika meresapi putus cinta, saya menyadari kalau saya memang benar mengalaminya, pun tidak menafikkan sakit karenanya. Sehingga pada suatu titik, yang bisa saja lama sekali atau sebentar sekali sejak putus cinta itu, saya menjadi saya yang baru.

Kabar baiknya lagi adalah, sebesar apapun pemicu yang dapat mengingatkan saya kepada masa-masa itu nantinya, saya tidak akan terpengaruh. Barangkali saya akan ingat, ya, cuma ingat, tidak lebih. Apalagi sampai galau lagi. Bukankah yang indah adalah begini?
Saya memahami kalau pengalaman setiap orang ketika putus cinta bisa saja berbeda. Namun, saya juga meyakini kalau setiap orang bisa mencoba cara ini, terlepas dari bagaimana prosesi putus cinta itu terjadi. Resapi sakit, dan dapatkan makna.
Selamat menjadi baru.
Recommended Posts × +